CARA MENGAJARKAN ANAK UNTUK BERBAGI

Posted on
Cara Mengajarkan Anak Untuk BerbagiBerbagi merupakan sebuah kata yang sangat untuk mudah diucapkan akan tapi sulit jika dipraktikkan. Setidaknya begitulah keluhan sebagian besar orang tua. Sang kakak enggan berbagi mainan dengan adiknya atau adik yang tidak mau berbagi makanan dengan sang kakak.

‘Kalaupun akhirnya mereka mau berbagi, harus dengan sebuah paksaan dari pihak ketiga,’ kata Sulistyani Priyanto, seorang ibu berusia 42 tahun tentang keadaan anak-anaknya, seperti dikutip oleh Republika. Ibu dari dua anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar ini merasa khawatir jika nanti buah hatinya akan tumbuh menjadi anak yang egois. Ya, berbagi dengan sesama manusia merupakan kunci pengendalian sifat egoisme yang telah merasuk ke dalam tatanan hidup manusia di zaman sekarang ini.Bagaimana cara mengajarkan anak untuk berbagi?
anak baik

Berbagi adalah sebuah hal kecil yang bisa dilakukan kapanpun dan di manapun. Namun sayangnya, masih saja ada di antara kita yang hingga saat sekarang belum peduli terhadap perbuatan mulia ini. Padahal, kebiasaan berbagi bisa menjadi awal yang baik kepekaan kita pada sesama. Hal ini seharusnya dapat ditanamkan oleh setiap orang tua kepada anak-anaknya sejak dini.

Bahkan, Dra Rustika Thamrin Psi, seorang psikolog yang sudah mendalami masalah pengasuhan anak  selama 14 tahun, sebagaimana dikutip Republika, menyatakan bahwa seharusnya orang tua, terutama ibu, sebaiknya sudah mengajarkan berbagi pada anaknya sejak dalam kandungan. Sebab, saat ibu sedang mengandung terdapat suatu spektrum energi yang sangat kuat yang bisa menghubungkan keduanya sehingga si janin dalam kandungan bisa mengerti setiap kegiatan atau sikap baik yang dilakukan oleh ibunya. Ajaklah bayi kita untuk berkomunikasi sejak masih di dalam kandungan dan ajarkan padanya untuk berbagi. Dengan demikian, si anak akan jadi terbiasa untuk melakukan perbuatan baik saat dia lahir ke dunia, kata psikolog yang juga lulusan Universitas Indonesia dalam sebuah inspirative talkshow Tango di Jakarta pada tahun 2012 silam.

anak baik

Prinsip berbagi
Sementara itu, seorang pembicara lain, Non Rawung, menjelaskan tentang prinsip berbagi. Menurutnya, berbagi adalah memberikan apa yang kita sukai pada orang lain. Apa yang dirasa berguna bagi diri kita, harus dirasakan juga oleh orang lain. Berbagi bukanlah memberikan sesuatu yang sisa pada orang lain, akan tetapi memberikan sesuatu yang terbaik yang kita punya, ujar wanita asal Gorontalo ini.

Selain itu, seorang nenek berusia 63 tahun ini juga menyebutkan bahwa ada dua hal yang mesti ditanamkan pada diri setiap orang. Pertama, memberi pertolongan pada orang lain adalah sebuah kesenangan. Dan yang kedua, menolong orang lain adalah sebuah kehormatan, bukan merupakan beban. Dengan menanamkan kedua hal tersebut, kita akan jadi terbiasa untuk dapat berbagi dengan orang lain. Untuk saya pribadi, berbagi dengan orang lain sudah menjadi suatu kebutuhan dan harus terus dan selalu dilakukan, kata Non Rawung.

Mengerjakan kebiasaan baik seperti sikap berbagi tentu bukan merupakan suatu perbuatan yang mudah. Akan ada banyak kendala yang dapat menghalanginya. Orang tua harus mempunyai cara yang jitu untuk dapat menanamkan kebiasaan mulia ini pada anak.

Rumus untuk membiasakan
Ada rumus yang dapat menjadi bekal bagi para orang tua, khususnya seorang ibu, untuk membentuk kebiasaan mulia seperti berbagi tersebut, yaitu niat untuk memulainya dan konsistensi dalam melakukannya (habit of giving = determination start + consistency). Rumus ini diungkapkan oleh  Rustika Thamrin dalam acara yang berlangsung di kota Jakarta ini.

Rustika Thamrin menyebutkan bahwa untuk merealisasikan kebiasaan berbagi ini diperlukan niat untuk memulainya adan konsisten dalam mengerjakannya. Tanpa kedua hal ini, kebiasaan tersebut tidak akan pernah bisa terwujud.

Lilis Suryani (45 tahun), seorang ibu dari dua anak yang sudah menerapkan prinsip berbagi ini sejak dini kepada anak-anaknya sendiri. Saya memulai kebiasaan berbagi ini dari rumah dulu. Saya dan suami berusaha untuk menjadi contoh yang baik bagi anak-anak untuk dapat saling berbagi dengan sesama. Dengan demikian, mereka akan termotivasi untuk dapat selalu berbuat baik kepada orang-orang yang kurang mampu, ujar Lilis.
anak baik

Menurut Rustika Thamrin, apa yang dilakukan Ibu Lilis merupakan hal yang sangat tepat. Saat ini mencari orang tua yang bisa dijadikan contoh oleh anak-anak seperti itu tidaklah mudah. Terkadang orang tua hanya mampu mendoktrin anak-anaknya untuk melakukan ini dan itu, akan tapi dia sendiri malah tidak mengerjakannya, kata Rustika thamrin.

Memperkuat tekad
Kurangnya contoh yang baik dari kedua orang tua tidak menjadi satu-satunya kendala untuk menanamkan niat dalam memulai kebiasaan berbagi. Kendala lainnya adalah seseorang tidak akan mudah terbiasa untuk keluar dari zona nyaman yang dia rasakan. Selain hal itu, adanya hambatan keyakinan dan juga kesulitan bagi orang-orang yang sedang terlibat, perasaan takut akan kegagalan, juga akan merasa citra dirinya akan terganggu pun menjadi sebuah kendala tersendiri. Kendala-kendala seperti ini akan muncul di awal seseorang yang akan memulai kebiasaan berbagi tersebut. Kalau tidak segera diatasi, bisa jadi orang tersebut malah akan mundur, dan kebiasaan berbagi ini tidak akan bisa terwujud.

Untuk mengatasi kendala-kendala tersebut sebenarnya sudah ada pada setiap diri kita sendiri, yaitu dengan niat yang tulus dan kuat untuk memulai kebiasaan baik ini (determination to start). Dengan tekad yang kuat dalam diri, semua kendala akan bisa teratasi, jelas Rustika thamrin.

Mempunyai niat untuk dapat berbagi saja tentu tidak cukup, harus ada sebuah konsistensi yang harus mengiringinya. Konsistensi inilah yang akan mampu menentukan apakah sikap berbagi dapat menjadi sebuah kebiasaan atau hanya sekadar wacana saja. Sebuah konsistensi tentu dipengaruhi oleh motivasi yang sangat kuat. Motivasi yang sangat kuat bukanlah berasal dari diri orang lain, melainkan berasal dari diri kita sendiri. 

anak baik
Untuk menyuburkan konsistensi dalam berbagi, tentu harus dimulai dari hal-hal kecil dan yang mudah, juga melakukannya dengan teratur setiap hari. Dengan demikian, kebiasaan berbagi akan menjadi suatu kebutuhan di dalam diri kita. Jika kita tidak melakukannya dalam sehari saja, akan merasa ada yang kurang.

Demikianlah cara mengajarkan anak untuk berbagi dengan sesama. Niat dan konsistensi harus terus dijaga dan dibiasakan setiap hari sampai tertanam kuat dalam jiwa setiap anak. Semoga sukses!

Source: Republika