9 CARA MENDIDIK ANAK YANG SALAH

Posted on
9 Cara Mendidik Anak Yang Salah – Setiap orang tua pasti selalu ingin yang terbaik bagi anaknya. Banyak hal yang dilakukan agar anak tersebut menjadi manusia yang berguna, bahkan orang tua selalu mengatakan bahwa anaknya harus lebih baik dari dirinya sendiri dalam berbagai hal, baik ilmunya, pendidikannya, rezekinya dan dalam segala hal. Namun kenyataannya secara sadar ataupun tidak, orang tua sering membuat kesalahan dalam mendidik putra-putrinya. Bagaimana cara mendidik anak yang benar? Hindari 9 cara mendidik anak yang salah berikut ini:

1. Kurang Pengawasan
Professor Robert Billingham, seorang pakar Human Development and Family Studies dari Indiana University mengatakan bahwa anak sekarang terlalu banyak bergaul di lingkungan yang semu di luar lingkungan keluarga dan itu merupakan hal buruk yang seharusnya mendapatkan perhatian dari orangtuanya. Jika Anda orang tua yang sibuk bekerja, pastikan selalu mengunjungi anak Anda di tempat penitipan anak atau sekolahnya secara rutin dan terencana. Jika pengawasan Anda menjadi kurang, solusinya adalah Anda harus mencari tempat penitipan lain yang memungkinkan Anda dapat mengawasi anak. Jangan biarkan anak Anda “di luar” sendirian, karena bagaimanapun anak Anda membutuhkan perhatian Anda sebagai orang tua.
belajar komputer

2. Gagal Mendengarkan
Charles Fay, Ph.D, seorang psikolog pernah mengatakan bahwa banyak orang tua yang terlalu lelah dalam memberikan perhatian pada anak dan cenderung kurang peduli pada apa yang anak-anak mereka ungkapkan. Misalnya saat seorang anak laki-laki pulang dengan mata yang terlihat lebam, pada umumnya orang tua langsung menanggapi kondisi anaknya tersebut dengan berlebihan, mengira-ngira si anak terkena benturan bola, atau bahkan berkelahi dengan temannya di sekolah. Tapi faktanya, orang tua tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi hingga anaknya sendiri yang bercerita.

3. Meluruskan Kesalahan Anak
Professor Robert Billingham mengatakan bahwa orang tua baiknya membiarkan terlebih dahulu jika anak melakukan suatu kesalahan, jangan langsung memvonisnya bersalah, biarkan anak Anda belajar dari kesalahannya agar kesalahan tersebut tidak terulang di lain waktu. Tentu saja maksud Billingham ini adalah jika kesalahan anak tidak membahayakannya jika dibiarkan terlebih dahulu, namun maksudnya adalah kesalahan kecil yang membuat anak bisa belajar mengatasinya. Bantu Anak Anda untuk dapat mengatasi masalahnya sendiri.

4. Terlalu Berlebihan
Menurut Judy Haire, seorang pakar yang sudah menangani berbagai masalah anak, banyak orang tua yang banyak menghabiskan waktu untuk dirinya sendiri. Tapi sangat sedikit yang meluangkan waktu bersama anaknya. Seorang ibu bisa bermake-up berjam-jam dan hanya punya sedikit waktu untuk anaknya sendiri. Luangkan waktu yang lebih banyak untuk mendampingi anak agar dapat memacu dan menumbuhkan kretifitas pada anak.

5. Bertengkar Dihadapan Anak
Menurut psikiater ternama Sara B. Miller, Ph.D., perilaku orang tua yang sangat  mempengaruhi dan merusak mental anak adalah bertengkar dihadapan anak. Ketika orang tua bertengkar di hadapan anak, khususnya jika anak Anda adalah anak lelaki, maka nantinya anak tersebut mejadi pria dew,asa yang tidak sensitif yang tidak dapat menjalin hubungan dengan wanita dengan cara yang sehat sehat. Sebaiknya jika orang tua sedang bertengkar seharusnya mereka tidak memperlihatkannya pada anak-anak yang ada di sekitar mereka. Wajar saja bila orang tua bertengkar dan memiliki perbedaan pendapat pendapat tetapi sebisa mungkin harus dilakukan tanpa amarah, karena hal itu dapat menimbulkan perasaan tidak aman dan rasa takut bagi anak.

6. Tidak Konsisten
Anak harus menyadari peran orang tua mereka. Oleh sebab itu orang tua harus konsisten dengan ucapannya. Cara mendidik anak saat ini sering bertolak belakang antara ucapan dan perbuatan orang tua. Saat anak meminta jajan makanan yang tidak sehat baginya, orang tua jelas melarang. Namun saat anaknya terus saja merengek dan menangis, akhirnya orang tua menyerah dan memberikan uang pada si anak untuk membeli makanan tersebut. Ini tidak baik bagi psikologis anak, dalam fikirannya akan tertanam bahwa orang tuanya tidak konsisten. Nanti jika ia menginginkan hal lain dari orang tuanya, ia akan melakukan hal yang sama dan terus menerus hingga usianya bertambah.

anak kecil lucu
7. Mengabaikan Kata Hati
Lisa Balch, ibu dari dua orang anak mengatakan bahwa orang tua apalagi seorang Ibu mempunyai kepekaan yang tajam tentang anaknya. Sudah saatnya mereka mendengarkan kata hatinya  dalam mendidik anak, jangan sampai nuraninya dikalahkan oleh hal-hal lain yang dapat menyebabkannya salah dalam mendidik anak.

8. Terlalu Banyak Nonton TV
Neilsen Media Research melaporkan bahwa anak-anak di Amerika dengan usia 2-11 tahun menghabiskan waktunya untuk menonton TV 3 jam dan 22 menit dalam sehari. Saya rasa di Indonesia juga tidak jauh berbeda, bahkan sebagian anak lebih lama dari itu dalam menyaksikan siaran TV. Terlalu banyak Menonton TV akan membuat anak jadi malas dalam belajar. Ironisnya, banyak orang tua cenderung membiarkan anak mereka berlama-lama di depan TV, hal itu mereka lakukan daripada mengganggu aktifitas mereka sebagai orang tua. Jika demikian, semua acara TV yang negatif dan tidak sesuai dengan usia anak juga akan masuk pada kepala dan orang tua tidak akan bisa memfilternya. Dampingi anak Anda saat menonton TV dan pilihkan acara yang sesuai dengan usianya dan batasi kegiatannya dalam menonton TV setiap hari.

9. Segalanya Diukur Dengan Materi
Anak membutuhkan quality time bersama orangtuanya. Tidak cukup hanya memberi anak berbagai benda dan mainan yang bisa mereka koleksi. Karena anak juga membutuhkan orang tua untuk mendengarkan mereka dibandingkan dengan Anda memberinya sesuatu dan diam. Ini berdampak kurang baik bagi psikologis anak.

Itulah 9 cara mendidik anak yang salah yang biasa dilakukan sebagian orang tua, baik sadar ataupun tidak. Memang masih banyak kesalahan-kesalahan lainnya yang tidak bisa dituliskan disini. Namun semoga 9 tips di atas dapat memberikan sedikit masukan untuk Anda agar menjadi orang tua yang baik.