BAHAYA SERING MELARANG ANAK MENANGIS

Posted on

Bahaya Sering Melarang Anak Menangis – Apakah Anda cukup sering melarang si kecil untuk menangis? Ternyata memberikan larangan itu tidak boleh asal atau sembarangan lho Bun. Anak yang dilarang menangis akan tertahan emosinya dan dapat tumbuh dengan tertekan.

Ine Indriani, seorang Psikolog anak, sebagaimana disebutkan dalam laman republika mengatakan bahwa hasil dari pengamatannya menemukan cukup banyak sekali para bunda atau orang tua yang sering melarang anaknya untuk menangis. Menurut Ine, melarang anak saat menangis sebenarnya boleh-boleh saja. Akan tetapi, sebelum orang tua melarang anak, sebaiknya pertimbangkan juga faktor usia anak, apa yang membuat anak menangis dan cara yang tepat untuk menghentikannya. Mungkin ini terjadi karena orang tua tidak mengetahui tentang bahaya sering melarang anak menangis.

Misalnya saja seperti pada bayi yang belum dapat bicara. Menangis adalah cara bayi untuk berkomunikasi. Melalui tangisan bayi yang khas, si kecil mengatakan tentang rasa sakitnya, lapar, haus, rasa tidak nyaman dan lainnya. Begitu juga dengan balita yang kemampuan untuk berbahasanya masih terbilang minim. Perasaan negatif seringkali diungkapkan balita dengan menangis. Misalnya saja pada saat kesal, marah atau merasa kecewa.

Anak nangis
Image: goinswriter.com

Anak Anda perlu tumbuh dengan kemampuan untuk mengontrol emosi dan mempunyai empati yang sangat baik pada orang lain. Oleh karena itu, orang tua harus memberikan kesempatan pada anaknya untuk mengungkapkan emosinya tersebut terlebih dahulu. Termasuk dalam hal ini adalah memberikan kesempatan pada anak untuk menangis sehingga dia akan merasa perasaannya diterima dan juga dipahami oleh orang lain.

Jika orang tua terus-menerus selalu melarang anak saat menangis, terutama pada usia balita, si kecil akan terus-menerus juga menahan emosinya tersebut. Akibatnya, menurut psikolog yang juga berpraktik di Jakarta Eye Center Kedoya tersebut, anak akhirnya tidak dapat mengenali emosinya dan juga membuat mereka jadi merasa tidak dipahami.

Karena tidak dapat mengungkapkan perasaannya dan juga merasa tidak dipahami orang sekitarnya, anak nantinya akan memendam emosi yang negatif. Cara untuk mengeluarkan emosi yang sesuai juga tidak dipahami oleh anak. Maka dari itu, perasaan-perasaan itu terus menumpuk dalam diri sehingga akhirnya bisa menyebabkan perilaku yang negatif. Misalnya seperti, menarik diri, teriak-teriak, sering mengamuk, mem’ukul dan lainnya. Rasa yang tidak dipahami tersebut, menurut Ine, akan membuat anak juga tidak bisa belajar cara untuk memahami dan cara untuk berempati pada orang lain.

Menyebut si kecil dengan sebutan anak cengeng termasuk tindakan orang tua yang salah dan tidak akan menyelesaikan masalah, karena hal tersebut hanya membuat anak justru terus menerus tersugesti dan akhirnya percaya bahwa dirinya seorang anak yang cengeng. Ine kemudian mengatakan bahwa perilaku cengeng juga bisa diulang-ulang karena anak merasa bahwa seperti itulah dia.

Nah, sudah jelas bukan bahaya sering melarang anak menangis. Biarkan anak meluapkan emosinya terlebih dahulu dan kemudian Anda dapat meredakannya dengan sabar, cinta dan kelembutan.